Dimana Allah? (2)

DALIL DARI AS-SUNNAH NABAWIYAH DAN PANDANGAN ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

1. Dari Shahabat Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu’anhu,

قَالَ وَكَانَتْ لِى جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِى قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِى آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّى صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَىَّ قُلْتُ

Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu. Kemudian kudatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya, beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan kepadanya :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُعْتِقُهَا

‘Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?

قَالَ « ائْتِنِى بِهَا ».

Beliau berkata : Panggilah ia!,

فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا « أَيْنَ اللَّهُ ».

Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata kepadanya : ‘Dimana Allah?

قَالَتْ فِى السَّمَاءِ.

Wanita itu menjawab : ‘Di langit’.

قَالَ « مَنْ أَنَا ».

Beliau bertanya lagi : ‘Siapakah aku?

قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ.

Ia menjawab : ‘Engkau adalah utusan Allah!

قَالَ « أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».

Beliau berkata : ‘Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! Karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman”.[1]

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengomentari hadits ini :

هذا صحيح رواه مسلم في صحيحه ومالك في موطأه ,وغيرهما من الأئمة رحمهم الله عز وجل

“Hadits ini shahih diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam shahihnya dan al-Imam Malik dalam Muwaththanya, dan selain mereka dari para A-immah semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmati mereka semua.”[2]

TENTANG HADITS INI BERKATA PARA IMAM AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Berkata al-Imam al-Hafizh ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah:

ففي حديث رسول الله دليل على أن الرجل إذا لم يعلم أن الله عز و جل في السماء دون الأرض فليس بمؤمن. ولو كان عبدا فأعتق لم يجز في رقبة مؤمنة إذ لا يعلم أن الله في السماء. ألا ترى أن رسول الله أمارة إيمانها معرفتها أن الله في السماء.

“Dalam Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ini terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah ‘Azza wa Jalla itu diatas langit bukan di bumi, maka dia bukan seorang mukmin. Kalau sekiranya seoarang hamba ingin dibebaskan maka tidak bisa menjadi budak mu’minah jika tidak mengetahui bahwa Allah diatas langit. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanan budak wanita tersebut adalah pengetahuannya bahwa Allah diatas langit.[3]

Berkata al-Imam Abul Hasan al-‘Asy’ari rahimahullah:

وهذا يدل على أن الله تعالى على عرشه فوق السماء فوقية لا تزيده قربا من العرش

“ini membuktikan bahwa Allah berada diatas arsy-Nya yang ada diatas langit dengan ketinggian yang tidak lebih dekat dari ‘arsy.”[4]

Berkata al-Hafizh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahullah:

ومن أجهل جهلاً ، وأسخف عقلاً ، وأضل سبيلاً ممن يقول : إنه لا يجوز أن يقال : أين الله؟ ، بعد تصريح صاحب الشريعة بقوله : أين الله؟

“Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan : bahwa tidak boleh bertanya : dimana Allah? Setelah ketegasan pembuat syari’at dengan perkataannya : dimana Allah?.[5]

Hadits diatas telah cukup untuk menjelaskan Dimana Allah, dan kami tidak akan menunujukkan hadits lain karena sangat banyak sekali yang menjelaskan masalah ini. Wallahul musta’an.

Bersambung insya Allah.


[1] HR. Muslim Bab Tahrimil Kalami Fiish Shalati wa Naskhi Ma Kaana min Ibahatihi (537), dan para Imam lainnya.

[2] Itsbat Shifatil ‘Uluw, al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Tahiq: DR. Ahmad bin ‘Athiyah bin ‘Ali al-Ghamidi, Mu-asasah ‘Ulumul Qur-an – Beirut & Maktabah ‘Ulum wal Hikam – Madinah al-Munawarah, Cetakan Pertama 1409 H, Hal. 69.

[3] Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah, al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi, Hal. 39 (63), ad-Darus Salafiyah – Kuwait, Cetakan Pertama 1405 H.

[4] Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, al-Imam al-‘Asy’ari, Tahqiq: DR. Fauqiyah Husain Mahmud, Dar al-Anshar – Kairo – Mesir, Cetakan 1 – 1397 H, Hal. 2/119

[5] Al-‘Iqtishad Fiil I’tiqad (‘Aqidah al-Hafidz’Abdul Ghani al-Maqdisi) hal. 45.

Satu Tanggapan

  1. de… nt ngejawab syubhat hati-hati. ntar kecebur susah mandinya….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.